example banner
.

Pimpin Kunker ke Sangihe, Komenaung: Saya Bangga Jadi Putra Nusa Utara

TAHUNA, pojoksulut.id —- Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Minahasa Utara (Minut) melakukan kunjungan kerja atau Kunker di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kunker ini dipimpin langsung Kepala Badan Kesbangpol Minut, Daniel Komenaung SE.

Saat tiba di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Komenaung bersama dua rekannya yakni Semuel Gerung, SE dan Jacki Pandi disambut oleh Kepala Badan Kesbangpol Sangihe Danny Mandak SE bersama stafnya.

Selama kunker di tanah leluhurnya, Komenaung mengunjungi beberapa tempat yang menjadi tujuan dari tugas mereka. Di antaranya wilayah Manganitu Selatan (Kaluwatu), Kamis (20/6/2019).

Usai melakukan kunker, pejabat low profile ini mengunjungi dan berziarah di Makam Pahlawan Raja Manganitu Bataha Santiago yang terletak di Kampung Karatung Satu, Kecamatan Manganitu.

“Meskipun sudah bertugas di Minahasa Utara, sata masih ingat sejarah dari Raja Manganitu Bataha Santiago,”ucap Komenaung saat ditemui Minggu (23/6/2019).

“Saya sangat bangga sebagai putra daerah Nusa Utara ini. Apalagi dengan banyaknya sejarah yang terdapat di sini. Ada baiknya kita harus lebih banyak mengetahui sejarah, adat istiadat dan budaya daerah kita. Agar kita bisa mengenalkannya ke masyarakat luas bahkan sampai ke mancanegara,”tambahnya.

Raja Manganitu Bataha Santiago, menurut Komenaung, adalah raja ketiga dari Kerajaan Manganitu, yang lahir di Bowongtiwo-Kauhis, Kecamatan Manganitu pada tahun 1622.

“Bataha Santiago, adalah nama lainnya. Bataha artinya sakti. Don Jugov (Jogolov) Sint Santiago, adalah nama lengkapnya. Ia adalah raja satu-satunya di Kepulauan Sangihe yang tidak mau menandatangani perjanjian dagang dengan VOC Belanda dan menyatakan perang,”terang Komenaung.

Lanjutnya, karena dia menganggap perjanjian itu merugikan rakyat dan kerajaan yang dipimpinnya. Isi Lange Contract yang ditentang oleh Santiago antara lain adalah perintah untuk memusnahkan tanaman cengkih dan semua benda yang dianggap oleh VOC sebagai simbol kekafiran.

Selanjutnya, dalam pertempuran melawan VOC, pasukan Santiago sulit untuk dikalahkan sehingga VOC menghentikan perang dan mencari siasat baru dengan memperalat dua sahabat Santiago agar membujuk menyetujui perjanjian kerjasama itu.

“Pesan pun disampaikan kepada Santiago bahwa jika perjanjian dengan VOC tidak disetujui, dampaknya tidak hanya Santiago yang dihukum mati, tetapi juga rakyat, keluarga dan kerabat kerajaan Manganitu juga akan dihukum,”cerita Komenaung.

Demi membela rakyatnya, lanjut Komenaung, Santiago ikut dengan VOC. Mereka bertolak menggunakan perahu. Dari pantai Paghulu-Manganitu, perahu yang membawa Santiago berlabuh di pantai Bungalawang-Tahuna, lalu Santiago dibawa ke kantor VOC di dekat tanjung Tahuna (kini menjadi kantor Kodim/1301 Sangihe).

Namun Santiago tetap pada pendiriannya, ia tidak mau menandatangani perjanjian sepihak itu. Santiago sudah siap dengan konsekuensinya. Ia dihukum mati akibat penolakkannya terhadap Lange Contract. Saat itu juga eksekusi dilakukan. Semua peluru yang disiapkan telah dimuntahkan, namun tidak ada satu pun peluru yang tembakkan oleh regu penembak berhasil menembus tubuh sakti Santiago.

Tim eksekutor takut bercampur heran, lalu mengubah cara eksekusi. Mereka membawa Santiago ke Tanjung Tahuna, lalu sang pahlawan heroik digantung di atas tiang gantungan. Pada saat hendak dinaikkan di tiang gantungan, Santiago membangkitkan semangat patriotisme para pejuang dengan kalimat “biar saya mati di tiang gantung daripada tunduk kepada penjajah”.

Saat itu juga, sang pahlawan mati pada seutas tali di tiang gantungan. Tapi mereka tidak yakin kalau Santiago yang sakti itu benar-benar meninggal dengan peluru tembakan. Akhirnya mereka memenggal kepala Santiago. Sebagai cara membunuh orang sakti waktu itu adalah memenggal kepalanya. Adik Santiago yang bernama Sapela menguburkan kepala kakaknya di salah satu pantai di desa Paghulu beberapa meter di atas pantai.

“Nama tempat tersebut adalah Nento di Desa Karatung Satu – Paghulu Kecamatan Manganitu. Sedangkan tubuh Santiago diduga dikuburkan di Tanjung Tahuna, di tempat ia dihukum mati, yang saat ini diberi nama Kelurahan Santiago,”papar Komenaung.

Lanjut ia menambahkan, bagi masyarakat Sangihe, Santiago merupakan simbol perlawanan dan pembangkit semangat nasionalisme.

“Merupakan suatu kehormatan buat saya bisa berziarah di Makam Raja Bataha Santiago. Sebagai putra daerah Nusa Utara, saya mengajak semua saudara-saudaraku di Kepulauan Sangihe dan Minahasa Utara untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan, dan tetap mempererat tali persaudaraan antar sesama,”tandas Komenaung yang juga adalah Panglima (Kolano) Brigade Santiago Kabupaten Minahasa Utara.

(vhy)

About The Author

Reply

example banner
.