example banner
.

Masyarakat Minut Inginkan Nama Jalan Tol Bawa Identitas Tonsea

AIRMADIDI,pojoksulut.id– Jelang peresmian jalan tol, sejumlah kalangan masyarakat yang ada di Minahasa Utara (Minut) mulai bertanya-tanya apa nama yang pantas untuk jalan bebas hambatan antara Kota Manado dan Kota Bitung tersebut. Hal ini pun tak luput dari perhatian beberapa tokoh masyarakat di Minut, hingga aspirasi ini disampaikan ke Kantor DPRD Minahasa Utara. Kamis (23/7/2020)

Kedatangan Sejumlah Tokoh masyarakat yakni William Luntungan, Piet Luntungan, Lidya Katuuk, Selfran Wungow dan beberapa perwakilan ormas di sambut oleh Ketua Komisi 1 DPRD Minut Edwin dan Anggota Komisi 1 Daniel Mattew Rumumpe (DMR) di ruang Sekretariat DPRD Minut.

Ketua LSM Gerakan Bela Rakyat (GEBRAK) Minut, William Luntungan dalam pertemuan tersebut menyampaikan aspirasi terkait beberapa nama jalan tol telah diusulkan oleh masyarakat Minut. Diantaranya Tou Tonsea dan AA Maramis.

Menurut William Luntungan, nama tersebut sudah sesuai dengan indentitas tanah Tonsea mengingat sebagian besar jalan tol tersebut melewati Kabupaten Minut. Maka dari itu, penamaan ini harus ada sinergitas antara Pemprov Sulut, Pemkab Minut dan masyarakat tanah Tonsea.

” Sesuai pernyataan dari pak Edwin Nelwan, sinergitas ini penting dan mereka dari DPRD Minut siap menyuarakan hal tersebut ke Gubernur Sulut dan Bupati Minut,” ungkap Will sapaan akrabnya dan dibenarkan tokoh masyarakat lainnya, Selfran Wungou.

Pernytaan tersebut juga didukung oleh tokoh masyarakat Tonsea, Piet Luntungan, agar jalan tol ini harus mengutamakan nama yang berkaitan dengan suku, etnis dan identitas Tonsea.

“Hampir 100% lahan jalan tol berada di tanah adat etnis Tonsea. Kalau pakai nama jalan tol Manado-Bitung, itu jadi pelecehan terhadap leluhur warga Tonsea dan pasti akan ada penolakan dari masyarakat Minut,” ucapnya.

Lanjut dikatakan Piet Luntungan, selama ini nama identik dengan suku Tonsea, belum pernah ada di monumen atau bangunan-bangunan yang bertahan secara berkelanjutan.

“Kalau kami sebagai orang Tonsea tidak menjual lahan, apakah jalan tol itu akan berdiri? Dan perlu diingat juga kalau nama Tonsea tidak pernah dimonumenkan atau di pakai di bangunan-bangunan yang bertahan secara berkelanjutan,” ujarnya seraya menambahkan jika Bitung juga dahulu merupakan tanah adat Tonsea.

Diakui juga oleh Ketua Komisi 1 DPRD Edwin Nelwan, jika nama jalan tol harus mengangkat identitas Tonsea, sudah 3 tahun lalu disampaikan kepada pemerintah. Namun sampai saat ini tidak pernah ditindak lanjuti.

“Fraksi Golkar 3 tahun lalu sudah pernah suarakan. Tapi itu seperti ibarat telur ayam yang berubah menjadi telur mata sapi. Tapi kami akan bersinergi dengan Pemkab Minut dan Pemprov Sulut soal penamaan ini. Warga Minut juga pasti akan suport penamaan identitas lokal,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Anggota DPRD Komisi 1 DMR dimana penamaan jalan tol ini harus mengutamakan jati diri Kabupaten Minut yakni Tonsea. Bahkan kalau perlu, suara masyarakat ini akan dibawah pihak legislatif ke Pemprov Sulut.

” Demikian juga dengan wakil rakyat asal Minut di gedung cengkih, harus mendukung aspirasi masyarakat Tonsea,” kuncinya.
(vhy)

About The Author

Reply

example banner
.